Senin, 20 November 2017

Mungkinkah AI menggantikan Tuhan ?

Mengulik sebuah issu paling dramatis abad ini. Perubahan aktivitas manusia, yang sehari-hari mengandalkan teknologo sederhana menjadi inovasi teknologi yang lebih sophisticated dari sebelumnya, hingga puncaknya saat ini yakni Artificial Intelligent berupa robot yang dapat memiliki kemampuan menghafal dan mendakwahkan kitab suci. Maka mari kita mulai degan memahami betul pengertian dan fungsi artificial intelligent.

AI dikenal juga dengan kecerdasan buatan, alat ini dibuat oleh si perancang (yang tak harus saya sebutkan namanya disini, karena inti pembahasan ini adalah AI dan Tuhan) untuk menggatikan peran pendakwah dari golongan manusia dan dinamakan sebagai Godhead. Dikatakan sebagai Godhead karena lebih cerdas dari manusia dan melakukan semuanya dengan cepat dan lebih tepat dari pada manusia. Apakah AI ini dijuluki sebagai Tuhan baru ? Mari kita keluar dari semua keterbatasan berpikir yang membuat kita memiliki sekat untuk memaksimalkan cara berpikir kita. Dahulu kala orang-orang kuno membuat patung dan mereka menghiasnya dengan emas, dan benda itulah yang disembah. Saat ini orang membuat robot yang ditanamkan didalamnya ayat-ayat suci, dan disebut sebagai Tuhan, karena lebih cerdas dari manusia. Mungkin secara fisik AI ini cerdas, secara eksistensi dia ada, namun secara makna ia tak ada, sebab tak ada ruh dan hati yang menempati fisiknya, dia hanya seperti mesin biasa. Pembelajaran secara konsep bisa didapatkan, namun secara practical sangatlah sulit, sebab yang di contoh dari guru adalah adab, kebiasaan, akhlak dan perilakunya, bukan sekedar ilmu pengetahuan. Dahulu orang menganggap emas sebagai hal istimewa, saat orientasi tersebut bergeser dengan anggapan bahwa AI adalah hal istimewa. Dahulu siapa yang memiliki banyak anak dan banyak harta dianggap memiliki derajat yang tinggi, saat ini siapa yang memiliki pendidikan formal dan kecerdasan lebih dari yang lain dianggap memiliki derajat yang tinggi. Namun, ketahuilah kedua hal ini harta dan kecerdasaan hanyalah sesuatu yang tidak absolut, sesuatu yang dinamis, dan hanyalah sebuah bukti kasih sayang dan anugerah dari-Nya.
Kecerdasan buatan tidak bisa menandingi kesempurnaan-Nya. Tangan dan fikiran yang digunakan untuk membuat AI tersebut adalah buah ciptaan-Nya, maka siapa yang lebih hebat ? Pembuat manusia atau pembuat sebuah benda mati bernama AI ?
Tentu pembuat manusia. AI dibuat hanya untuk mempermudah pekerjaan manusia, bukan menggantikan peran manusia sebagai khalifah dimuka bumi.

Robot tidak bisa mencontohkan perilaku dan akhlak, tidak bisa mencintai, tidak memiliki kasih sayang, maka ia tak memiliki esensi, ia hanya memiliki eksistensi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar