Perempuan-perempuan
telah lahir, berdiri di garis-garis depan sebuah wajah semesta paling modern di
abad ini. Mengguncang dilema yang merekah di tengah ramai kasak-kusuk
modernitas, melawan arus bukanlah sebuah perkara mudah, saat pikiran tentang
modernitas ternyata berwajah purba. Perempuan-perempuan khatulistiwa hadir
dengan perannya, membangun komunitas saling memperkuat ruh bagi diri dan
keluarganya, membangun generasi rabbani.
Sampai disini, terlintas tiang-tiang penyangga yang hampir lapuk di makan jaman, entah karena tergerus jaman atau karena pemikiran modernitas yang semakin menggambarkan keadaan primitif. Peran perempuan membina keluarga sangat perlu di bangun bagi perempuan Indonesia. Bagaimana mungkin menjalani hidup dengan hanya bermodal kecantikan dan keayuan saja. Bekal hidup tak sebatas merawat tubuh dan wajah, namun perlu diisi dengan spirit untuk berani hidup.
Perempuan
muda masa kini di tuntut untuk ideal dalam segala hal, baik itu kecantikan
fisik dan kecantikan hati dan juga kestabilan ruhnya (spiritual). Perempuan
saat ini di beri kebebasan yang sama dengan kaum laki – laki untuk mengambil
peran disemua bidang. Lantas, bagaimanakah peran perempuan-perempuan yang berada
di Indonesia semestinya ? . Perempuan-perempuan yang telah di bina dalam
harokah ini seharusnya memahami peran dan konsekuensi atas setiap pilihan hidup
yang mereka ambil di masa ini. Sekalipun tumbuh dengan berbagai karakter dan
berasal dari lingkungan keluarga yang berbeda, namun jiwa mereka tetap tumbuh
sehaluan dengan prinsip-prinsip tarbiyah yang telah mereka dapatkan lewat
halaqoh dan marhalah yang telah mereka lewati.
Perempuan
harus sadar bahwa tangannya dapat menyembuhkan segala penyakit jiwa dan juga
dapat mencipta karakter bagi anak-anak keluarga dan komunitasnya. Lewat
jemarinya yang lentik dia dapat menyembuhkan sakit anaknya, menghidupi dan
memelihara mereka, menjadi anak-anak pengaharum nama orang tua dan bangsa. Pun
juga karakter, ia seperti melukis di atas batu saat ia membina anak-anaknya di
usia emas mereka. sedang bagi keluarga, dia mampu menjadi warna dan menjadi
cahaya bagi semua anggota keluarga. Memastikan simpul-simpul yang telah lama
lekat itu tetap merasa saling bersaudara, sehingga nyaman untuk menjadi peneduh
di kala hujan dan terik datang. Perempuan akan tetap mencintai dengan lembut
setiap lekuk jalan hidupnya, mencipta sebuah ikatan yang penuh harmoni bersama seorang
yang di temaninya bernama suami. Akhlaknya menjadikan ia selalu di rindui
keluarga, karena membekas di hati mereka pengorbanannya yang mulia, sehingga
mendapat gelar syurga di bawah telapak kakinya. Bagi masyarakat, perempuan
sanggup menjadi cahaya, menyalakan lampu-lampu yang padam di antara
kapling-kapling rumah komunitas tempat ia tinggal, manjadi bagian dari solusi
bagi komunitas. Menghapus keadaan yang amat berjarak dengan tetangga, memilih
tetap bersosialisasi, dan mengalahkan setiap kebencian dan kedengkian yang
tercipta dan merubahnya menjadi hubungan yang eksotis (penuh kedamaian, dan
penuh rasa aman di antara tetangganya).
Hati dan tingkah laku
perempuan yang indah akan menghantarkannya menjadi bidadari bermata jeli di
hari akhir nanti. Namun, semua itu tak akan bisa di raih jika perempuan tak
mampu melawan badai zaman, dan meluaskan pandangannya dengan ilmu tentang kehidupan,
sebab orang hidup harus berani hidup. Perempuan-perempuan khatulistiwa,
menghantar jiwanya pada pelangi, menghias rupa dengan semangat tinggi untuk
hidup dan tetap berkiprah untuk keuarga, tetap menahan hawa nafsunya, meskipun
saat ini kebebasannya tidak dicuri. Terimakasih padamu, perempuan-perempuan
khatulistiwa yang telah hidup lebih awal dari kami, perempuan masa kini yang
penuh keterbatasan, meskipun kemerdekaanmu dan semua kaum di pasung pada zaman
itu, namun engkau tetap berdiri kokoh menjadi pembela bangsa, menjadi guru bagi
murid-muridmu di bilik-bilik yang kecil di setiap sudut kampung, membesarkan
para tokoh-tokoh besar dan pendiri bangsa ini. Perempuan-perempuan khatulistiwa
anggunmu terlukis lewat senyum, ikhlasmu kudapat lewat kerja-kerjamu, pengorbananmu
telah dipanen di hari ini. Tugas perempuan masa kini adalah mempersiapkan diri
menumbuhkan bibit-bibit hijau yang siap di panen di masa depan, saat dimana
usia kita telah senja dan mungkin tinggal nama kita saja yang tercatat abadi di
atas pusara-pusara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar