Minggu, 17 Desember 2017

Perempuan-Perempuan Khatulistiwa



Perempuan-perempuan telah lahir, berdiri di garis-garis depan sebuah wajah semesta paling modern di abad ini. Mengguncang dilema yang merekah di tengah ramai kasak-kusuk modernitas, melawan arus bukanlah sebuah perkara mudah, saat pikiran tentang modernitas ternyata berwajah purba. Perempuan-perempuan khatulistiwa hadir dengan perannya, membangun komunitas saling memperkuat ruh bagi diri dan keluarganya, membangun generasi rabbani.

Sampai disini, terlintas tiang-tiang penyangga yang hampir lapuk di makan jaman, entah karena tergerus jaman atau karena pemikiran modernitas yang semakin menggambarkan keadaan primitif. Peran perempuan membina keluarga sangat perlu di bangun bagi perempuan Indonesia. Bagaimana mungkin menjalani hidup dengan hanya bermodal kecantikan dan keayuan saja. Bekal hidup tak sebatas merawat tubuh dan wajah, namun perlu diisi dengan spirit untuk berani hidup.
Perempuan muda masa kini di tuntut untuk ideal dalam segala hal, baik itu kecantikan fisik dan kecantikan hati dan juga kestabilan ruhnya (spiritual). Perempuan saat ini di beri kebebasan yang sama dengan kaum laki – laki untuk mengambil peran disemua bidang. Lantas, bagaimanakah peran perempuan-perempuan yang berada di Indonesia semestinya ? . Perempuan-perempuan yang telah di bina dalam harokah ini seharusnya memahami peran dan konsekuensi atas setiap pilihan hidup yang mereka ambil di masa ini. Sekalipun tumbuh dengan berbagai karakter dan berasal dari lingkungan keluarga yang berbeda, namun jiwa mereka tetap tumbuh sehaluan dengan prinsip-prinsip tarbiyah yang telah mereka dapatkan lewat halaqoh dan marhalah yang telah mereka lewati.
Perempuan harus sadar bahwa tangannya dapat menyembuhkan segala penyakit jiwa dan juga dapat mencipta karakter bagi anak-anak keluarga dan komunitasnya. Lewat jemarinya yang lentik dia dapat menyembuhkan sakit anaknya, menghidupi dan memelihara mereka, menjadi anak-anak pengaharum nama orang tua dan bangsa. Pun juga karakter, ia seperti melukis di atas batu saat ia membina anak-anaknya di usia emas mereka. sedang bagi keluarga, dia mampu menjadi warna dan menjadi cahaya bagi semua anggota keluarga. Memastikan simpul-simpul yang telah lama lekat itu tetap merasa saling bersaudara, sehingga nyaman untuk menjadi peneduh di kala hujan dan terik datang. Perempuan akan tetap mencintai dengan lembut setiap lekuk jalan hidupnya, mencipta sebuah ikatan yang penuh harmoni bersama seorang yang di temaninya bernama suami. Akhlaknya menjadikan ia selalu di rindui keluarga, karena membekas di hati mereka pengorbanannya yang mulia, sehingga mendapat gelar syurga di bawah telapak kakinya. Bagi masyarakat, perempuan sanggup menjadi cahaya, menyalakan lampu-lampu yang padam di antara kapling-kapling rumah komunitas tempat ia tinggal, manjadi bagian dari solusi bagi komunitas. Menghapus keadaan yang amat berjarak dengan tetangga, memilih tetap bersosialisasi, dan mengalahkan setiap kebencian dan kedengkian yang tercipta dan merubahnya menjadi hubungan yang eksotis (penuh kedamaian, dan penuh rasa aman di antara tetangganya).
Hati dan tingkah laku perempuan yang indah akan menghantarkannya menjadi bidadari bermata jeli di hari akhir nanti. Namun, semua itu tak akan bisa di raih jika perempuan tak mampu melawan badai zaman, dan meluaskan pandangannya dengan ilmu tentang kehidupan, sebab orang hidup harus berani hidup. Perempuan-perempuan khatulistiwa, menghantar jiwanya pada pelangi, menghias rupa dengan semangat tinggi untuk hidup dan tetap berkiprah untuk keuarga, tetap menahan hawa nafsunya, meskipun saat ini kebebasannya tidak dicuri. Terimakasih padamu, perempuan-perempuan khatulistiwa yang telah hidup lebih awal dari kami, perempuan masa kini yang penuh keterbatasan, meskipun kemerdekaanmu dan semua kaum di pasung pada zaman itu, namun engkau tetap berdiri kokoh menjadi pembela bangsa, menjadi guru bagi murid-muridmu di bilik-bilik yang kecil di setiap sudut kampung, membesarkan para tokoh-tokoh besar dan pendiri bangsa ini. Perempuan-perempuan khatulistiwa anggunmu terlukis lewat senyum, ikhlasmu kudapat lewat kerja-kerjamu, pengorbananmu telah dipanen di hari ini. Tugas perempuan masa kini adalah mempersiapkan diri menumbuhkan bibit-bibit hijau yang siap di panen di masa depan, saat dimana usia kita telah senja dan mungkin tinggal nama kita saja yang tercatat abadi di atas pusara-pusara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar